Mengapa baru belakangan ini Jemaat Ahmadiyah dipermasalahkan, padahal aliran ini sudah ada di Indonesia sejak 1925. Seandainya pemerintah RI melaksanakan pertimbangan melarang Ahmadiyah, ini jelas langkah yang unik, karena di zaman Orde Barunya Soeharto dulu, aliran ini tidak dilarang.
Apa sebenarnya yang ditakutkan dari Jemaat Ahmadiyah? Ikuti penjelasan Muhammad Najib Azca, pakar keamanan dan perdamaian Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.
ahmadiyah2.220.jpgDuri dalam daging
Muhammad Najib Azca [MNA]: Saya kira tidak ada yang spesifik sebenarnya. Artinya nggak ada sesuatu yang baru, yang terkait dengan hal ini, bahwa ini fenomena yang lama. Lalu juga mereka tidak melakukan sesuatu manuver yang baru juga tidak. Cuman bahwa yang berubah adalah saya kira setting makro, konstelasi atau konfigurasi gerakan-gerakan Islam. Dulunya saya kira mentolirer, merelatifkan perbedaan yang terkait dengan aliran keagamaan seperti Ahmadiyah. Lalu muncul saya kira belakangan ini fenomena kelompok-kelompok yang makin melihat ini sebagai sebuah duri dalam daging. Kira-kira begitu.
Jadi sesuatu yang mengganggu kenyamanan dalam beragama. Kenyamanan dalam arti mereka merasa ada satu kelompok yang mungkin berbeda dalam beberapa sisi keagamaan, dari yang lain, dari kelompok mainstream yang lain. Lalu selain itu, kemudian mereka merasa ini bisa menjadi sesuatu yang membuat umat Islam secara keseluruhan mendapatkan citra atau pemahaman yang keliru mengenai agama yang terkait dengan misalnya posisi Ahmadiyah. Ini saya kira isunya saja yang berubah. Jadi dari isu mereka saya kira nggak ada yang berubah, mereka sudah lama dan mereka nggak akan melakukan manuver-manuver yang baru. Cuma setting sosial politiknya saja yang saya kira berubah. Yang kemudian membuat terjadinya peristiwa ini.
Berita - Politik / www.ranesi.nl /
Dimasukkan 200 hari 2 jam 41 menit lalu