Seberapa Banyak Kita Harus Percaya pada Opini Publik
Hampir tiap hari saya baca di seluruh artikel, media cetak, pemberitaan di media massa sarat isu tentang kekalahan kita disemua lini, secara khusus yang saya maksudkan disini adalah bidang teknologi. Seolah setelah beberapa dekade hidup dalam optimisme semu yang dibentuk dimasa Orde Baru, tabu rasanya untuk mengemukakan hal yang berbau keberhasilan. Selain barangkali memang begitu adanya, tetapi boleh jadi juga karena menyatakan keberhasilan kepada publik di masa ini terasa sebagai suatu bentuk manipulasi, terasa sebagai pesan titipan pemerintah, yang dimasa swasta ini citranya selalu dipandang dengan dahi mengerenyit.Publik cenderung memiliki attention-span yang sangat terbatas dalam mempersepsikan sesuatu. Penilaian obyektif kita terhadap suatu masalah, dalam banyak hal sering kali tidak perlu memilik korelasi positif dengan apa yang dipercaya oleh suatu komunitas yang kita berada didalamnya.
Publik hanya mampu faham bahasa ekstrem, berhasil atau tidak, setuju atau tidak, dan media sebenarnya lebih berperan menyimpulkan apa yang disukai oleh publik, sesuatu yang dibawah sadar ingin didengar oleh publik dibandingkan dengan realitas.
Analogi
Saya ingin menganalogikan pandangan terhadap pembentukan opini publik dengan pandangan terhadap para marketers menurut Seth Godin dalam bukunya ’All marketers are liars’, yang mengatakan bahwa fungsi marketers adalah menceritakan apa yang sebenarnya ingin didengar oleh konsumen, dan bukan sebaliknya, yaitu mempersuasi konsumennya seperti yang selama ini dibayangkan. Saya melihat bahwa pembentukan opini publik melalui media didalam banyak hal juga tidak jauh berbeda. Media memang mengedukasi masyarakat, tetapi lebih banyak disetir kearah yang masyarakat kehendaki sendiri.
Jadi saya tidak terlalu kuatir dengan berbagai opini maupun editorial maupun segala macam rating tentang posisi kita yang terpuruk di bidang teknologi. Kita bukan tepuruk, tetapi kita majunya tidak secepat negara industri. Bedanya, dahulu media dikendalikan oleh elite yang berkepentingan untuk terlihat berhasil memajukan teknologi, sementara sekarang, media adalah milik publik yang memang dipenuhi segala macam masalah.
Media sekarang memiliki cakupan global, dan hanya sesuatu yang luar biasa secara global saja yang akan terlihat sebagai achievement, diluar itu, semua hanya kelihatan biasa-biasa saja. Orang terlalu cepat lupa,tentang pencapaian hal-hal yang luar biasa atau bahkan ajaib dari sisi logika seperti teknologi seluler, mikroelektronika, komputer dan teknologi informasi. Orang melihat video-conference yang ditawarkan para operator seluler sekarang, seperti yang digambarkan di komik Flash Gordon jaman dahulu, hanya terheran-heran untuk beberapa hari saja, sesudah itu semua berjalan seperti biasa seolah-olah memang sudah seharusnya begitu.
Apabila dahulu kita bingung membayangkan bagaimana nasib kita dimasa depan apabila kita dibanjiri dengan informasi global, tidak perlu heran bahwa saat itu cepat atau lambat akan terjadi, dan saat itu ternyata adalah sekarang, dan krisis percaya diri tadi adalah hanya salah satu dampaknya.
Maka dari itu, bisa jadi penguasaan teknologi kita sebenarnya maju, tetapi tidak dengan skenario yang dibayangkan oleh publik kita. Orang masih berpikir dengan pola teknologi yang dikembangkan dan dikuasai dulu oleh negara maupun elite kemudian di spin-off ke masyarakat swasta. Di era banjir informasi apakah hal seperti itu masih jadi mode?
Di samping itu, mengapa mesti terkotak-kotak dengan istilah bangsa ini terpuruk atau tidak? Bahwa ada anggota masyarakat kita yang gagap teknologi tidak menjadikan kita bangsa gaptek. Energi kreatif kita bisa habis menguap hanya karena sibuk memikirkan apakah kita memang begitu.





