INFO TERBARU: Kirim saran dan kritik ke Blog Lintas Berita
29
Vote Up
Vote Down
Menuju Era Wireless Broadband

Menuju Era Wireless Broadband

Popularitas 3G tidak hanya ditentukan lewat video call, tapi juga karena kecepatan akses datanya.
Heboh 3G sudah terasa sejak dua tahun lalu, tapi baru 2006 terealisasi. Tiga dari lima operator pemegang lisensi 3G, Telkomsel, XL, dan Indosat, tengah gencar mempromosikan layanan berbasis multimedia ini. Berbagai paket promosi digelontorkan untuk menarik minat masyarakat akan layanan 3G. Mulai dari gratis tarif video call pada beberapa menit pertama, download games, download video clip, streaming video clips, dan streaming TV mobile hingga diskon mengakses mobile internet.

Hasilnya sungguh luar biasa. Hanya dalam waktu tiga bulan, Telkomsel telah mencatat lebih dari satu juta pelanggan 3G yang teregister dan XL sekitar 120 ribu pelanggan dengan rata-rata setiap harinya 25 ribu pelanggan yang aktif mengakses XL3G. Uniknya, baik pelanggan 3G Telkomsel maupun XL yang menggunakan akses data untuk download, streaming video, dan mobile internet jumlahnya lebih tinggi daripada yang memakai untuk video call. Lebih dari 60 persen pelanggan lebih suka memanfaatkan layanan 3G untuk akses data dibandingkan video call. Padahal banyak orang meramalkan booming-nya 3G lebih disebabkan ketertarikan pelanggan 3G menggunakan video call.

Dari data tersebut, terdeskripsi fenomena 3G ke depan akan lebih menonjol pada pemanfaatannya terhadap kebutuhan akses data seperti video atau TV streaming serta donwload dan browsing menggunakan high speed internet. So, tampilnya 3G boleh dibilang sebagai era awal masuknya wireless broadband di Indonesia.

Cocok Untuk Korporat
Belum ada yang bisa memastikan bagaimana nasib 3G ke depan. Belajar dari MMS yang sempat diramalkan menjadi primadonanya 2,5G dan akhirnya kandas di tengah jalan, membuat operator ekstra hati-hati mengatur strategi marketing 3G. Mereka tidak bisa bergantung hanya pada pasar ritel, tetapi juga ke korporat. Sebab dilihat dari kemampuan teknologinya, 3G memang lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan pasar korporat khususnya dalam hal akses data berkecepatan tinggi.

Nizar Mansur, SVP Business Solution XL, mengatakan bahwa XL3G akan lebih dominan dipasarkan ke segmen korporat. Ia beralasan, pasar ritel yang membutuhkan 3G masih sangat kecil karena kecenderungan pengguna ponsel yang masih memanfaatkan ponselnya hanya untuk voice dan SMS. “Kalau saat ini pemakai 3G perorangan cukup banyak lebih disebabkan para operator masih memberlakukan program promosi. Dan juga 3G masih “barang” baru sehingga banyak orang mau coba,” ujar Nizar.

Maka untuk antisipasinya, lanjut Nizar, sejak diluncurkan September lalu XL3G juga akan difokuskan untuk korporat terutama dalam memenuhi kebutuhan akses data yang lebih besar dan cepat. Ia mencontohkan, dengan speed 3G yang mencapai 2 Mbps, maka perusahaan-perusahaan yang butuh pengiriman data real time dalam jumlah besar bisa dilayani dengan high speed internet 3G.

Seperti XL, Indosat dan Telkomsel pun concern menyiapkan layanan 3G bagi korporat. Menurut Guntur S. Siboro, Senior Vice President Integrated Marketing & Loyalty Indosat, 3G di masa datang akan lebih fokus ke layanan data dan segmentasi yang paling membutuhkannya adalah korporat. “Indosat memang hanya mengurusi internet 3G bagi korporat. Sedangkan untuk ritel diserahkan sepenuhnya kepada Indosat Multimedia (IM2) yang selama ini telah perpengalaman melayani akses internet,” kata Guntur.

Sedangkan bagi Telkomsel, selain konsentrasi ke ritel, teknologi 3G akan digunakan mendukung layanan Corporate Business Solution khususnya layanan nirkabel (wireless connectivity). “Layanan ini diperuntukkan bagi perusahaan yang butuh koneksi wireless cepat. Kehadiran 3G akan sangat membantu. Tapi pada dasarnya, seluruh segmentasi pelanggan menjadi fokus layanan 3G Telkomsel. Hanya saja, disesuaikan dengan jenis layanannya,” ungkap Suryo Hadiyanto, Manager Corporate Communications Telkomsel.

3G vs ADSL
3G sebagai wireless broadband memang memberikan banyak nilai lebih. Selain high speed internet, teknologi ini bisa dipakai untuk komunikasi berbasis IP (VoIP), serta nonton streaming video dan Live TV. Hal yang tidak didapat dari teknologi sebelumnya. Dan sebagai “new wireless broadband”, banyak orang beranggapan 3G bakal menjadi pesaing cable broadband ADSL dalam hal layanan akses internet. Benarkah?
Dilihat dari karakteristik jaringannya, 3G dan ADSL memang memiliki perbedaan yang sangat jelas. 3G lebih diperuntukkan bagi akses internet saat mobile, sedangkan ADSL khusus untuk akses internet tetap berbasis kabel. Sehingga segmentasi pasarnya pun secara otomatis terpisah. Market 3G lebih pas bagi para profesional yang punya mobilitas tinggi, sementara ADSL sangat cocok buat internet perumahan, perkantoran, atau warnet. Sehingga kata “pesaing” bagi 3G dianggap kurang tepat.

“Kedua layanan tersebut punya segmen pasar yang berbeda. ADSL lebih cocok buat mereka yang menggunakan akses fixed, sementara 3G diperuntukkan bagi mereka yang kerap butuh akses data saat mobile,” papar Ruby Hermanto, General Manager Marketing Product XL. Pendapat Ruby didukung oleh Suryo Hadiyanto. Menurutnya, keberadaan high speed internet 3G tidak akan mempengaruhi ADSL karena beda segmentasi. “Kedua layanan tersebut saling melengkapi sesuai segmentasi marketnya. Jadi lebih pantas disebut mitra,” tambahnya.

Pendapat lebih bijaksana dilontarkan oleh Guntur S. Siboro. Ia mengingatkan, keberadaan 3G dan ADSL harus saling melengkapi, bukan saling mematikan. “Biarkan pelanggan memilih sendiri akses internet sesuai kebutuhan, jangan dipaksakan. Mereka yang berinternet hanya untuk chatting atau kirim email bisa memakai ADSL, tapi buat mereka yang mobilitasnya tinggi dan ingin mengirimkan data, voice, dan video sekaligus bisa menggunakan 3G,” ujar Guntur. Tapi satu hal yang ditekankan Guntur, pengaruh harga dan popularitas masih menjadi kunci seseorang dalam memilih kedua layanan ini.

Jadi, tidak ada alasan memperdebatkan keberadaan 3G dan ADSL. Yang penting bagaimana operator bisa mengemas layanannya sedemikian rupa agar bisa dinikmati masyarakat banyak dengan mudah dan murah tentunya.


Box
Speedy Berbenah

Demi menjaga citra dan kepuasan para pelanggannya, Speedy, akses internet berbasis ADSL debutan Telkom berbenah memperbaiki layanannya. Banyaknya komplain dari pelanggan terhadap kualitas Speedy ditanggapi Telkom dengan perbaikan jaringan. Mulai dari mengganti jenis kabel hingga ke perangkat lunak pada servernya termasuk penyempurnaan sistem billing yang dulu sempat banyak menuai protes karena perhitungan tagihannya tidak cocok dengan pemakaian pelanggan Speedy.

Tidak hanya itu, Speedy pun membuat beberapa program promosi untuk menarik pelanggan baru. Terakhir kali mereka membuat program promosi Formula 5 yang menawarkan 5 paket hemat Speedy termasuk penurunan tarif. Konon program tersebut mampu menggaet pelanggan baru yang cukup banyak.

Septika N. Widyasrini, Executive General Manager Multimedia Division Telkom, yang bertanggung jawab memasarkan Speedy mengatakan, Selain perbaikan dan program promosi, Speedy juga membuat beberapa inovasi baru. Diantaranya, melakukan bundling dengan 200 hotspot di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya. “Kami juga membuat sebuah komunitas yang terbuka bagi 70 ribu pelanggan Speedy seperti komunitas games. Dan rencananya tahun 2007 ini kita akan meluncurkan layanan IPTV, sebuah layanan multimedia dimana pelanggan bisa nonton TV secara langsung lewat internet,” ungkap
Berita - Teknologi / www.telsetonline.com / Dimasukkan 477 hari 13 jam 2 menit lalu / Dipilih 476 hari 14 jam 13 menit lalu

Komentar Anda

Saat ini ada 0 komentar

Anda harus login atau register dulu sebelum pasang komentar
Kirim Media Anda