Musim partai politik menyetor para calon elite untuk diadu dan diuji keberuntungannya dalam Pemilu 2009. Berita politik didominasi oleh para artis dan figur dadakan yang digandeng oleh parpol dalam kerangka merebut simpati rakyat. Bahkan, ada yang merasa perlu membuka lowongan di media massa untuk menjadi penghuni gedung Senayan.
Sudah begitu jelas dan dipahami, partai politik gagal menjadi media pembibitan calon politisi andal, yang jelas pemihakannya kepada rakyat. Mereka lebih berorientasi pada kemenangan politik dalam pemilihan. Tak ada lagi rasa malu atas semua kenyataan ini. Dengan bangga mereka mengumumkan figur-figur publik yang tak pernah merasakan gemblengan partai dan hampir pasti tidak jelas kepada siapa mereka berpihak.
Kontradiksi-kontradiksi lain dalam dunia politik hari ini cukup membingungkan. Tanpa disadari oleh semua pihak yang berkepentingan, para figur itu hanya menjadi vote getter yang sangat semu.
Ke manakah arah orientasi politik Indonesia dengan kenyataan seperti ini? Hasrat berkekuasaan nyatanya jauh lebih mendominasi daripada cita-cita untuk membangun republik ini bersama-sama. Politik jatuh pada fatamorgana dan ketidakjelasan pemihakan. Rakyat hanya menjadi obyek penipuan besar yang bernama kekuasaan golongan. Hilangnya kebersamaan penderitaan nyata.
Republik ini sering berangkat dari tiadanya kebersamaan dan kemampuan para elite untuk melayani rakyat dengan sungguh-sungguh. Mereka tidak bekerja untuk rakyat tetapi bekerja untuk diri sendiri dan kelompoknya. Hasrat untuk memenangkan dan menguasai kapling-kapling sumber daya negara makin lama makin menguat dengan beragam cara. Semua ini dilakukan di balik segala berita dan wacana "kebersamaan membangun republik". Politik memang merupakan seni untuk berebut kekuasaan.
Berita - Politik / www.prakarsa-rakyat.org /
Dimasukkan 84 hari 14 jam 40 menit lalu
/ Dipilih 84 hari 36 menit lalu