Keberingasan Pelajar, Tanggung Jawab Siapa?
Dunia pendidikan kembali tercoreng. Entah, sudah berapa kali kasus kekerasan yang melibatkan kaum pelajar kita itu terungkap. Aksi mereka, konon tak melulu sebatas kenakalan remaja yang wajar, tetapi sudah memasuki stadium kriminal yang perlu diwaspadai secara serius. Maka, terhenyaklah kita ketika sekelompok pelajar putri yang menamakan diri sebagai Geng Nero (Neka-neka Langsung Keroyok) berulah. Mereka tak segan-segan melakukan praktik kekerasan jika ada anggota gengnya yang tersakiti. Pelajar masa kini memang berada dalam atmosfer peradaban yang amat rumit dan kompleks. Mereka tidak hanya menghadapi situasi internal yang berkelindan dengan dinamika psikologis yang tengah memburu jatidiri, tetapi juga situasi eksternal yang menawarkan banyak perubahan dan pergeseran tata nilai. Iklim global yang begitu terbuka terhadap berbagai pola dan gaya hidup setidaknya telah menjadi salah satu jalan bagi kaum pelajar untuk “memanjakan” naluri hedonisnya. Iklim semacam itu diperparah dengan mulai merebaknya sikap permisif masyarakat terhadap berbagai perilaku anomali sosial. Kaum remaja, disadari atau tidak, tak sedikit yang “berwajah ganda”. Di sekolah, mereka mendapatkan ajaran-ajaran moral dan budi pekerti. Namun, mereka sering melihat kenyataan, banyak peristiwa dan kejadian yang amat bertentangan secara diametral dengan nilai-nilai luhur baku yang mereka terima di sekolah. Pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, dan berbagai ulah tak terpuji lainnya bisa mereka saksikan dengan mata telanjang. Berita-berita yang tersebar di berbagai media pun sarat dengan darah, kekerasan, dan kebohongan.Komentar Anda
Saat ini ada 27 komentar
bisa dibilang itu tanggung jawab media ini alasannya
Kenapa kok ya ada image kalo orang masuk geng itu cool banget dan banyak cewe yang suka, padahal masuk geng itu kan cuma kerjaannya ngumpul dan tindakan positifnya sedikit abis. Kenapa kok ga pernah ada image yang bagus tentang orang yang pinter, setiap kali orang bilang kalo dia pinter dia tuh kuper kek apa kek selalu aja negatif..
sudah saatnya kurikulum di indonesia diubah.Kurikulum di Indonesia terlalu berat dan hanya menitikberatkan pada unsur eksak tanpa mengimbanginya dengan pendidikan rohani,akibatnya pelajar terbiasa berada dalam tekanan dan berat dalam menuntut ilmu akbatnya mereka mencari pelampiasan lain untuk menyalurkan rasa kekesalan mereka
kalau pertanyaannya ini semua tanggung jawab siapa?
jawabannya adalah ini adalah tanggung jawab kita bersama.
kita tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja karena faktor penunjang terjadinya semua ini juga banyak, bisa dari diri mereka sendiri, keluarga atupun lingkungan.
kekerasan sepertinya saat menjadi salah satu pilihan utama untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di negara ini,hampir semua aspek kehidupan dan jenjang usia menggunakan cara2 kekerasan sebagai satu2nya pilihan,dimana budaya bangsa kita yang selalu mengedepankan dialog dan musyawarah untuk mufakat
Sudah saatnya kembali Pramuka/Pesantren digalakkan di SMA-SMA. Anak muda sekarang saya lihat banyak ngisep rokok kemudian duduk di trotoar sambil suit-suit kalo ada cewek lewat. Inikah yang akan mewarisi bangsa ini?. Pasti pejabat-pejabat pemerintah, DPR, MPR dsbnya dulu begini, makanya bangsa jadi amburadul, tidak ada perasaan bagaimana saya menapak masa depan nanti.
kan ada pepatah
" anak tidak akan jauh berbeda dari bapaknya "
guru sebagai bapak itu kalo suka mukul murid , ya muridnya juga ikut jadi beringas
saya untungnya tidak meskipun waktu SMA guru saya itu terkenal sadis dan bila orang tidak membikin PR langsung ditampar
sorry ga mau nyebutin nama tetapi itu orang tidak segan segan menghajar murid di depan murid2 lainnya
ini menjadi salah satu sebabnya ?
jangan cuma selalu langsung menganak tirikan kepada anaknya saja tapi lihat bapaknya juga donk
aneh rasanya jika kita menanyakan siapa yang harus bertanggung jawab atas anak.sepertinya keberadaan keluarga sudah dinafikan.anak itu sudah tentu tanggung jawab orang tua.mereka menjadi pelajar karena orang tua mereka yang menyekolahkan mereka.seharusnya bukan sekolah yang disalahkan sepenuhnya



161 hari 18 jam 27 menit lalu