Disubmit :
98 hari 6 menit lalu
Menjadi Terpilih : 96 hari 11 jam 54 menit lalu
Liat profil
Harga minyak makin menggila, mendekati USD 150 per barel. Tak heran jika SBY sampai menyeru kepada pemimpin dunia agar ada solusi yang lebih ajeg untuk menahan laju harga bahan bakar dari fosil ini. Solusi meminta negara produsen minyak untuk menaikkan tingkat produksinya juga mustahil dilakukan. Soalnya, kata mereka, jika hal itu dilakukan, bakal tak ada lagi yang membeli kelebihan produksi tersebut.
Ini menandakan, lonjakan harga BBM tak terkait dengan permintaan dan penawaraan secara riil di pasar melainkan mencerminkan ekspektasi terhadap nilai BBM di masa depan. Anda boleh sebut juga sebagai buah spekulasi para tengkulak minyak.
Jika kondisinya seperti itu, harga minyak memang tak bisa terkendali. Kecuali kalau ada perubahan drastis model jual beli minyak. Yakni, kembali ke model lama berupa kontrak pembelian jangka panjang sebagaimana masih berlaku dalam penjualan gas alam saat ini. Jika model jual belinya seperti itu, harga minyak bakal lebih mudah terprediksi dan terkendali. Tapi, pastinya, produsen minyak pasti ogah kembali ke model perdagangan itu karena potensi meraup keuntungan seketika (windfall)-nya begitu tipis.
Nah, apa implikasinya bagi kita? Pemerintah memang telah menggencarkan upaya habis-habisan untuk melakukan penghematan dan juga pengurangan subsidi. Tapi, dengan tingkat harga seperti sekarang, keuangan negara memang tinggal tunggu waktu untuk jebol.
Karena itulah diam-diam orang-orang mulai berspekulasi ikhwal kenaikan harga BBM bakal kembali dinaikkan. Setidaknya ada dua cara yang bisa dilakukan pemerintah. Pertama, kembali mengurangi jumlah subsidi dengan menaikkan harga BBM bersubsidi. Masalahnya, jika ini dilakukan, tak ada jaminan dalam jangka pendek pemerintah tidak lagi melakukan hal itu kembali jika harga BBM terus menukik.
Pilihan lain, pemerintah melakukan tindakan drastis: melepas kendali terhadap harga BBM. Artinya, pergerakan harga BBM otomatis mengikuti pergerakan harga internasional. Sebagai kompensasinya, pemerintah membanjiri masyarakat miskin dan hampir miskin dengan berbagai subsidi: dari mulai subsidi pangan, pendidikan, kesehatan hingga subdisi "kemahalan" untuk produk non pangan. Ini memang langkah yang penuh resiko tapi tentu saja juga bisa menghadirkan banyak keuntungan.
Pemerintah SBY memang bakal dihujat habis-habisan oleh masyarakat kelas menengah (sedangkan kelompok kaya paling banter hanya ngedumel sebentar saja), tapi bakal menuai simpati luar biasa dari kalangan masyarakat hampir menengah dan hampir miskin, miskin dan sangat miskin. Ini terlihat dari survei Indobarometer yang menyebutkan 56,8% responden menyetujui BLT. Ini jumlah yang lebih dari cukup untuk menggelontorkan.
Apalagi kalau dibarengi dengan meretool jajaran di bidang energi: dari mulai menteri ESDM, Direksi Pertamina, Direksi PLN dan juga direksi Petral. Kalau mereka dibabat habis, tudingan SBY bersekongkol dengan mafia minyak pun luruh dengan sendirinya sehingga kampanye negatif kompetitor akan bagai memukul ruang kosong.
Nah, menurut Anda, apa yang bakal jadi pilihan bagi SBY?
kontribusi dari
lusiana
Komentar
pemerintah dalam posisi dilematis menaikkan harga BBM artinya menyengsarakan rakyat dan membuat popularitas pemerintah menjadi turun,tapi tidak menaikkan BBM bisa membuat APBN jebol
sebelum menaikkan BBM pemerintah harus memikirkannya secara matang,kita lihat dampak baik dan buruknya dulu bagi rakyat
mudah-mudahan pemerintah bisa menemukan solusi lain selain menaikkan harga BBM,sebab dengan harga BBM yang saat inipun rakyat sudah merasa keberatan
kita menunggu kinerja dari hasil penyelidikan DPR dulu melalui hak angket,apakah benar ada kebocoran anggaran yang besar di tubuh pertamina,jika memang ada anggaran itu bisa digunakan untuk membantu mensubsisdi BBM