KEINGINAN untuk hidup lebih layak dengan bekerja di luar negeri mengandung risiko harus berpisah dengan keluarga sampai puluhan tahun. Tidak sedikit orang-orang Indonesia yang merantau ke luar negeri untuk mencari kehidupan yang lebih baik memendam rindu pada keluarga, karena untuk pulang kampung halaman waktunya begitu sempit, sehingga puluhan tahun rindu pada keluarga itu ditahan-tahan. Jawal misalnya, pria dengan 2 anak hasil pernikahannya dengan orang Singapura Melayu asal Jawa Tengah sejak usia 5 tahun baru sekali pulang kampung. “Rindu keluarga di Jawa sih selalu muncul, tetapi apa daya pekerjaan tak bisa ditinggalkan,” ujar Jawal yang sejak remaja sudah bekerja di Desa Kartika Indonesian Restaurant Orchard Road, Ngee Ann City, Singapore di pusat Belanja Takhasimaya. Kepada KR yang mengikuti studi banding mahasiswa S-2 Program Manajemen Informasi dan Perpustakaan (MIP) Sekolah Pascasarjana UGM ke Malaysia dan Singapura, Jawal mengatakan, di ajak kedua orangtuanya merantau ke Singapura sejak usia 5 tahun. Selain di beberapa kota Jawa Tengah, keluarga juga ada di Bandung dan suatu saat nanti akan menengok keluarga bersama anak dan istrinya. Jawal rupanya tidak seberuntung Hasimah binti Johan sama-sama perantau yang sejak lulus sarjana perpustakaan di Singapura tahun 1985 bekerja sebagai pustakawan di National University Singapura (NUS). Hasimah yang asli Demak itu hampir setiap tahun pulang kampung bersama keluarganya. Kebetulan suaminya asli Kendal, sehingga bisa pulang sama-sama. “Kesempatan untuk menumpahkan rindu keluarga itu hampir bisa dilakukan setiap tahun, tetapi tidak bisa saat-saat Lebaran. Sebab liburan di Singapura itu pada akhir tahun bertepatan dengan Tahun Baru dan Natal atau Imlek,” kata Hasimah binti Johan dengan bahasa Melayu campur Inggris. Pembantu Hasimah berasal dari Surabaya, sehingga kalau liburan sekalian bisa pulang kampung. Lain Hasimah lain Mohammad Zein, pengusaha rumah makan Minang di Kandahar Street Singapore ini sangat jarang pulang kampung di Padang Pariaman karena pekerjaannya tak mengenal libur. Selain memiliki Rumah Makan Minang yang dikelola istrinya Nur Syahidah/Zubaidah Marlian juga mempunyai dan mengelola CV yang sulit ditinggalkan. “Untuk memendam rindu ini saya panggil saudara-saudara dari Pariaman sana ke Singapura, supaya ada kabar terakhir dari kampung sekaligus menampungnya untuk bekerja di Singapura ini,” kata Zein yang mengaku orang Padang, tetapi dilahirkan di Singapura. Di Malaysia juga banyak dijumpai orang-orang Indonesia yang rindu keluarga namun tak kesampaian karena terikat pekerjaan, seperti Direktur Pendidikan Petronas Dr Rosti Satuwono asal Jawa Barat. Lebih-lebih Rusdi yang tinggal di Malaka bersama kedua orangtuanya, 6 anak dari pernikahan dengan orang Melayu. Pria berasal dari Jakarta ini mengaku sangat rindu dengan keluarganya di Betawi