Terbelenggu Mitos BBM
Akhir minggu lalu harga minyak mentah di pasar berjangka New York untuk penyerahan Juni sudah mencapai 126 dollar AS. Itu adalah harga nominal. Hasil kajian yang dimuat majalah Economist, edisi 17 April 2008, memaparkan bahwa dengan menggunakan ukuran lain, tampaknya harga minyak dewasa ini belum tergolong mahal. Dengan menggunakan acuan perkembangan pendapatan konsumen tahunan negara-negara kaya yang tergabung di dalam G-7 sejak 1981, harga minyak seharusnya naik menjadi 134 dollar AS. Apabila dipadankan dengan perkembangan pendapatan siap belanja (disposable income) penduduk AS, harga minyak bisa bertengger setinggi 145 dollar AS. Dan seandainya diselaraskan dengan pangsa belanja minyak terhadap output global, harga minyak berpotensi mencapai 150 dollar AS. Jadi, sebetulnya harga minyak dewasa ini belum tergolong tinggi. Harga di masa lalu itu, sebetulnya, yang relatif terlalu murah.Komentar Anda
Saat ini ada 42 komentar
saya setuju dengan pendapat penulis.. sejarah perkembangan kenaikan harga minyak dunia seharusnya memang jadi permasalahan yang harus dimaklumi.. yang jadi pertanyaan kenapa sejak dulu bangsa kita tidak bisa berkembang untuk mengolah minyak mentah mereka sendiri.. karena dalam waktu yang relatif panjang seharusnya para pemimpin negara bisa mengantisipasi permaslahan ini sehingga BBM naik berapapun rakyat indonesia tidak akan melarat seperti sekarang...
kalo para demonstran bisa baca tulisan bang faisal ini.. mungkin mereka akan berfikir bagaimana caranya rakyat untuk bisa bangkit dari keterpurukan ini.. karena banyak manusia indonesia belum kuat secara ekonomi dan psikologi. jadi yah memang dilema yang amat berat kejadiannya..
nah kerjaannya pak bos presidenniy yang harus segera berfikir keras mengantisipasi kemajuan bangsa.. jangan sampe tersendat masalah2 lagi..
Subsidi yang seharusnya buat rakyat akhirnya subsidi dinikmati oleh kelompok berpendapatan menengah ke atas. Data versi pemerintah menunjukkan bahwa 20 persen penduduk terkaya menikmati 43 persen subsidi, sedangkan kelompok 20 persen penduduk termiskin hanya memperoleh 7 persen saja. Data yang tertera di dalam publikasi Bank Dunia terakhir lebih parah lagi: 10 persen terkaya menikmati sekitar 45 persen, sedangkan 10 persen termiskin hanya dapat sekitar satu persen saja.
walaupun secara rill harga bahan bakar minyak dunia cenderung mengalami kenaikan, tetap saja itu adalah faktor produksi penting bagi sektor ekonomi yang lain. maka dari itu, ketika harga bbm naik makan harga kebutuhan barang dan jasa yang lainnya akan mengalami kenaikan pula. seharusnya kebijakan yang dilakukan pemerintah adalah menyamakan daya beli masyarakat Indonesia secara umum dulu baru disesuaikan dengan harga bbm. kalau di negara kaya, jelas saja tidak ada masalah besar menaikkan harga bbm mengikuti harga dunia, jika negara miskin wadaw akibatnya sangat fatal untuk perekonomian jika tidak diperhitungkan secara cermat.
Saya sangat setuju dengan apa yang dibahas oleh teman2 sebelumnya yang mengatakan bahwa pembenahan yang perlu dilakukan adalah sektor pemerintahan Indonesia.Pemerintah Indonesia telah lupa tugas yang seharunya diemban oleh mereka dalam menciptakan stabilitas perekonomian negara
@shishihenge ya kalo ampe bbm disubsidi trus negara kita ya semakin hancur lah mas
pengaruh dari kehidupan yang selalu menginginkan kemudahan membuat gelap mata para warga negara indonesia.. jika saja hal yang disampaikan dalam tulisan ini bisa memberikan pengaruh yang sedikit saja bisa merubah paradigma mereka akan sebuah keputusan.. mungkin mereka akan belajar untuk hidup lebih mandiri dan bekerja keras...
mmhh analisa yang bagus niy.. tapi tadinya siyh gw males baca. tapi penasaran kok banyak yang milih jadi gw baca.. eh ga taunya emang bagus jg isinya.. niyh.. pelajaran bagus buat bangsa niyh.. jangan terlalu disklaim pemerintah dunks.. sebenarnya ini karena kita juga tau...



227 hari 19 jam 54 menit lalu