Kenapa negara kita tidak mencetak uang sebanyak mungkin?
Kemaren sore selama perjalanan pulang dari kantor ntah kenapa Katroboy ‘ngelamun’ dan mikirin keadaan ekonomi bangsa ini (ceileee… :D ), mungkin gara2 disetiap lampu merah Katroboy temuin sekarang ini koq makin banyak aja ya pengamen dan pengemisnya??! ada yang ngamen dan ngemis asal2an saja (maksudnya begini, banyak pengamen yg cuman ‘kecrek2′ doank ga jelas lagunya apa!, baik itu remaja, bapak2 ataupun anak kecil, begitu juga pengemisnya, badannya masih sehat2, anak2 kecil ataupun ibu2 yang sambil gendong anaknya) tapi ada juga sebagian kecil yang sungguh2 ngamennya, lagu nya jelas, pake gitar atau biola (suaranya lumayan bagus lagi), begitu juga ada pengemis yang memang menimbulkan rasa sedih dan iba, seperti kakek2/nenek2 yang sudah tua, ataupun orang2 cacat yang cuman bisa duduk doank di trotoar.. ahhh.. kadang2 terharu juga liat-nya, sebersit dihati timbul ‘pertanyaan’: pemerintah kerjanya apaan sih?? bukannya Anak Yatim, Fakir Miskin dan Orang2 terlantar dilindungi dan dipelihara oleh negara?? (atau jangan2 di Amandemen UUD yang baru udah dihapus ya??!! hehehe.. :P )Komentar Anda
Saat ini ada 31 komentar
Secara sederhana pikirkan begini: Di negara kita, ‘mata uang’ adalah ‘nenas’. Di negara lain, ‘uang’ adalah tikar. Kalau ‘nenas’ kita kebanyakan, harganya jadi jatuh, mengapa karena demand ‘nenas’ merosot atau 'nenasnya' overstock. Jadi rupiah tidak dapat dicetak berlebihan, karena nilainya akan justru merosot di dunia internasional. Rupiah bukan uang yang demandnya tinggi seperti USD, EUR, atau GBP. Bila demand yang tidak tinggi ini dibarengi dengan pencetakan uang berlebihan, maka apa yang ditunjukkan oleh nominal IDR 25.000 bukan lagi mengacu ke Big Mac, tetapi bisa-bisa ke gelas bekas aqua. Saya kira di Fakultas Ekonomi silabus Ekonomi Makro dan Dasar Ekonomi dijelaskan tentang ini.



130 hari 6 menit lalu